LOMBA FOTO KONSERVASI 2010

PIKA Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Centre for Forestry Educational and Training-JICA dalam kaitan tahun Keanekaragaman Hayati Internasional 2010 menyelenggarakan Lomba foto konservasi.

Tema
Lomba foto mengambil tema "Keindahan Taman Nasional". Obyek foto menggambarkan panorama alam dan segala aktifitas di kawasan taman nasional.

Persyaratan

  1. Terbuka untuk umum,
  2. Peserta lomba tidak dipungut biaya,
  3. Pemotretan dilakukan di kawasan taman nasional di seluruh Indonesia,
  4. Karya harus orisinil dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun,
  5. Pemotretan dapat dilakukan dengan menggunakan media film maupun digital, tanpa melakukan rekayasa pasca pemotretan,
  6. Foto cetak dikirim tanpa alas karton maupun bingkai, dengan ukuran sisi terpanjang 25 s/d 30 cm.
  7. Untuk kepentingan pemeriksaan keabsahan keaslian film, pemenang yang menggunakan media film diwajibkan menyerahkan film negatif asli (bukan reproduksi) sebelum penyerahan hasil pemenang. Sedangkan penggunan media digital diwajibkan menyerahkan hasil karyanya dalam bentuk CD ( minimal ukuran image 3 mega pixel)
  8. Pengiriman foto disertai informasi :
    • Identitas peserta: nama lengkap, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi dan alamat-email.
    • Judul Foto
    • Lokasi dan tanggal pemotretan
    • Keterangan Foto (sekitar 30 kata)
  9. Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal 5 buah foto.
  10. Foto yang dapat diikutsertakan adalah hasil pemotretan tahun 2009-2010

Batas Waktu Pengiriman
Foto dikirimkan ke:
Panitia Lomba Foto Konservasi
Pusat Informasi Konservasi Alam (PIKA)
Jalan Pajajaran No. 79 Warung Jambu, Bogor

Diterima Panitia mulai tanggal 20 Juli 2010 dan selambat-lambatnya pada tanggal 20 September 2010 (Cap Pos)

Hak Cipta
Seluruh foto pemenang menjadi dokumen PIKA dan dapat digunakan untuk kepentingan PIKA. Foto-foto yang tidak termasuk pemenang tetapi dimanfaatkan untuk kepentingan PIKA, akan dibicarakan kemudian.

Hadiah
Juara Umum : Kamera SLR Canon EOS 50D KIT 18-55mm IS + Piagam Penghargaan
Juara I : Kamera SLR Canon EOS 550D Kit 18-55mm IS +Piagam Penghargaan
Juara II : Kamera SLR Canon EOS 450D Kit 18-55mm IS +Piagam Penghargaan

Juara III : Kamera SLR Canon EOS 1000D Kit 18-55mm IS +Piagam Penghargaan
Juara Harapan 10 Besar : Hadiah Hiburan + Piagam Penghargaan

Pengumuman Pemenang
Pemenang Lomba Foto akan diumumkan pada tanggal 6 Oktober 2010 di website www.dephut.go.id , www.ditjenphka.go.id dan pemberitahuan langsung ke pemenang melalui email dan/atau telepon. Keputusan Panitia tidak bisa diganggu gugat.

Informasi lebih lanjut hubungi :
- Pusat Informasi Konservasi Alam (PIKA) di Jalan Pajajaran No. 79 Warung Jambu – Bogor, telp/fax: 0251-8357960/8357959
- Email: pika@indo.net.id
- Erwin: 08128935654
- Eva: 08129456148

Download Poster

==========0000000000==========

 

SEJARAH TAMAN NASIONAL

Istilah taman nasional pertama kali terdengar saat peresmian Taman Nasional Yellowstone oleh Presiden AS Ul¬ysses S. Grant pada 1 Maret 1872. Inilah taman nasional pertama di dunia. Dari daratan Amerika, janin tam¬an nasional menyebar ke benua lain. Australia menyusul dengan Taman Nasional Royal, sebelah selatan Sidney, disahkan pada 1879. Kemudian, Taman Nasional Banff, waktu itu dikenal sebagai Taman Nasional Gunung Rocky, menjadi taman nasional pertama Kanada pada 1887. Pada tahun yang sama, Selandia Baru memi¬liki taman nasional pertamanya.
Daratan Eropa sedikit terlam¬bat mengikuti perkembangan ini. Baru tahun 1910, Swedia mengikuti langkah mendirikan taman nasional. Pada 1926, di ujung selatan benua hitam, Afrika Selatan meresmikan Taman Na¬sional Kruger. Usai gejolak Perang Dunia II, puluhan kawasan taman nasional diresmikan di seluruh dunia.

Lalu apa yang terjadi di Indonesia ? ......selengkapnya

 

==========0000000000==========

10 Agustus sebagai Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN)

Sebagai tindak lanjut dari Keppres No.22 Tahun 2009 (pdf), pencanangan Hari Konservasi Alam Nasional dilakukan oleh Wakil Presiden RI di Istana Wapres pada tanggal 22 Januari 2010. Hadir pada kesempatan tersebut Menhut Zulkifli Hasan, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menbudpar Jero Wacik, Menkominfo Tifatul Sembiring, serta Mendagri Gamawan Fauzi dan para undangan lainnya.

Dalam sambutannya Wapres mengingatkan bahwa manusia saat ini sudah cenderung melupakan arti penting konservasi alam, karena kesibukan sehari-hari. Manusia menurutnya adalah spesies yang ganas karena dengan kemampuan otaknya bisa beradaptasidengan lingkungan dan mengalahkan spesies lainnya. Untuk itu manusia perlu memberikan ruang hidup bagi spesies lain. Wapres mengajak lapisan masyarakat agar bersama-sama perduli dan memperhatikan konservasi alam sehingga alam bisa tetap terjaga.

==========0000000000==========

 

Kawasan Konservasi di Tengah Pusaran Zaman
Ir. Wiratno, MSc

Strategi konservasi alam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah konservasi sejak jaman Belanda.  Awalnya, kebijakan konservasi lebih mengarah pada upaya preservasi-perlindungan. Dengan watak konservasi seperti itu, muncul kawasan-kawasan cagar alam, suaka alam atau suaka margasatwa. Pada umumnya luasannya relatif kecil karena hanya untuk melindungi spesies tertentu. Kawasan cagar alam di Bengkulu, misalnya, yang khusus melindungi Rafflesia arnoldi, hanya seluas beberapa hektar. Namun demikian, pada jaman kolonial juga ada kawasan suaka alam yang cukup luas, yaitu Leuser, 400.000 hektar, yang ditetapkan pada 1934. Pada era 1980-an, muncullah kawasan konservasi taman nasional, yang sebenarnya diadopsi dari pemikiran dan gerakan konservasi dari Amerika Serikat. Lima taman nasional pertama dideklarasikan di Bali, yaitu Gunung Leuser, Gede Pangrango, TN Ujung Kulon, Baluran, dan Komodo, dengan luas total 1,4 juta hektar. Tentu saja, saat itu cara mengelola taman nasional masih belum jelas dan mencari bentuk. Sepuluh tahun kemudian, baru lahir Undang-undang No.5 tahun 1990 yang mensyaratkan tidak kurang 11 peraturan pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan taman nasional.  Selanjutnya berbagai upaya penunjukkan  kawasan konservasi terus dilakukan dan cenderung mengarah pada sistem ‘taman nasional’. Tidak kurang dari 65 persen dari kawasan konservasi adalah taman nasional. 

Baca Selengkapnya