artikel selengkapnya
Judul : Karakteristik Pohon Bersarang Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting
Sumber : Konservasi Alam Edisi II Tahun 2009 (Penulis: Abdul Muin; abd_moein@yahoo.com)
Tanggal Publish : 2010-02-12 10:51:38
 
Orangutan, Pongo pygmaeus wurmbii, menjadi simbol bagi langkah-langkah peningkatan kesadaran konservasi. Kelanggengan hidupnya dapat menjamin kelestarian hutan tropis dan satwa penghuni lainnya. Upaya melestarikan Orangutan dilakukan, antara lain, dengan menetapkan hutan tempat hidupnya sebagai kawasan yang dilindungi—seperti Tanjung Puting, Kutai, Sebangau, dan Gunung Palung sebagai taman nasional. Melengkapi usaha itu, juga dibangun pusat-pusat rehabilitasi untuk menampung Orangutan hasil sitaan yang dipelihara manusia dengan tujuan akhir dilepasliarkan ke kampung halamannya. Langkah terakhir ini memerlukan penyiapan habitat baru yang sesuai dengan kebutuhan Orangutan, baik kondisi fisik maupun keadaan biotik calon habitat. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang standar habitat yang mampu mendukung kelangsungan hidup satwa berbulu lebat ini. Salah satu komponen habitat yang penting bagi Orangutan adalah pohon. Orangutan memanfaatkan pohon, antara lain, untuk mendirikan sarang di rimbunan tajuk untuk beristirahat, termasuk tidur dan bermain sepanjang hari (Rijksen, 1978). Sarang juga berfungsi sebagai tempat untuk kawin, melahirkan anak, dan mengasuh anak sampai siap disapih. Sarang merupakan ciri terpenting, yang membedakan Orangutan dari jenis primata lainnya (Galdikas, 1988). Maple (1980) menyebutkan, Orangutan membangun paling tidak satu sarang per hari untuk beristirahat dan tidur di malam hari. Diperkirakan banyak faktor ekologi yang memengaruhi Orangutan dalam memilih pohon untuk bersarang.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan: 1. mengidentifikasi faktor dominan yang memengaruhi Orangutan membangun sarang di habitat (pohon) tertentu; 2. mendeskripsi tipologi,pohon preferensial; dan, 3. mendiskripsi sarang Orangutan. Penelitian dilakukan di kawasan Taman Nasional Tanjung Putting, Kalimantan Tengah.

Orangutan memiliki preferensi dalam membangun sarang. Faktor dominan yang memengaruhi kecenderungan memilih pohon sarang adalah jumlah jenis tumbuhan pakan dan diameter pohon. Hal kedua ini sebagai faktor pendukung.

Pohon sarang yang teridentifikasi yang disukai memiliki karakteristik: jenis pohon sarang sekaligus sumber pakan pakan Orangutan. Secara fisik, tinggi pohon sarang bervariasi antara 7-30 meter; diameter pohon bervariasi antara 0.23-2.32 meter; dan diameter tajuk pohon sarang Orangutan antara 3-8.5 meter. Begitu juga dalam menyeleksi bentuk tajuk, Orangutan juga cenderung memilih pola tajuk tidak beraturan (persentase tertinggi), meskipun juga mendiami tajuk kosong di salah satu sisi, tajuk berbentuk bola, tajuk berbentuk payung, berbentuk silinder dan tajuk kerucut.

Sarang Orangutan umumnya berada pada ketinggian 12-14 meter, sekitar 2,5-3,6 meter dari puncak pohon. Lebih dari 39 persen posisi sarang berada di antara dua cabang pohon yang sama. Sumber bahan sarang dapat berasal dari 1 pohon sarang yang diapaki hingga 3 jenis pohon berbeda dengan material sarang, umumnya, terdiri atas daun berukuran kecil dan besar, ranting dan cabang pohon.

Dengan melihat karakteristik sarangnya, dalam rangka penyi-penyiapan habitat baru yang standar bagi rehabilitasi Orangutan rehabilitasi, perlu menimbang faktor determinan habitat dan preferensi pohon sarang.

Lokasi atau jalur yang banyak dijumpai sarang Orangutan, perlu menjadi pertimbangan dalam penentuan zonasi taman nasional dengan tetap melakukan monitoring dan pengamanan secara intensif.

Dengan mengetahui preferensi pohon sarang pada jalur tertentu, akan diperoleh informasi penting dalam pengelolan kawasan. Untuk wisata jelajah, misalnya, akan berpeluang lebih besar bertemu Orangutan liar atau pengenalan sarangnya.

Dalam jangka panjang, diperlukan penelitian lanjutan dalam rangka evaluasi tingkat keberhasilan peliaran Orangutan rehabilitasi di habitat yang baru.***



Kembali