7 September 2010
Penting
- Ragam Kupu-kupu Bantimurung Menyusut
- PRESS RELEASE PELATIHAN SATUAN MANGGALA AGNI REAKSI TAKTIS (SMART) DAN PELATIHAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN BAGI PEJABAT/PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PHKA PUSAT DAN DAERAH
- Penyelundupan 18 Kakatua Digagalkan
- Gubernur dan Dua Menteri Mampir di Melawi, Imbau Warga Jaga Hutan
- Puluhan Trenggiling Gagal Diselundupkan
Agenda
Info
Statistik Pengunjung
Anda pengunjung ke :
artikel selengkapnya
| Judul | : | Burung-burung Baluran, Keelokan Tanah Kering yang Terusik |
| Sumber | : | Konservasi Alam Edisi III Tahun 2009 (Penulis: Swiss Winnasis) |
| Tanggal Publish | : | 2010-01-28 09:53:25 |
|
Dua hal yang terlintas di kepala ketika mendengar nama Taman Nasional Baluran: banteng jawa, Bos javanicus dan akasia, Acacia nilotica. Tentu saja wajar mengindentikkan Baluran dengan banteng jawa, mengingat satwa ini berkibar sebagai spesies bendera (flagship species) kawasan seluas 25.000 hektar itu. Namun, untuk tumbuhan akasia, adalah persepsi yang paling jujur sekaligus menyedihkan.
Sejak diintroduksi pertama kali 1960-an untuk sekat bakar, akasia lambat tapi pasti, tumbuh dan menyebar ke sekujur kawasan Baluran. Laksana kanker, akasia ini menginvasi hutan-hutan mulai dari savana yang kering, hutan musim, sampai mangrove yang terendam air laut. Berbagai ijtihad dan ikhtiar untuk menyapu bersih spesies mangagumkan ini, ternyata tak cukup ampuh untuk menandingi laju pertumbuhan dan penyebarannya. Meski belum ada penelitian tentang pengaruhnya terhadap keberadaan burung-burung, namun, setidaknya saat ini, untuk sekadar melihat banteng jawa teramat sulit dibandingkan awal 2000-an. Pada akhirnya, kebesaran nama Baluran sebagai kawasan yang eksotis memudar. Taman Nasional Baluran adalah miniatur tipe hutan kering yang banyak tersebar di Indonesia Timur yang termasuk dalam kelompok Sunda Kecil. Hutan musim alami dan savana yang sangat luas di Baluran adalah satu-satunya yang ada di pulau Jawa. Karakter habitat yang kering dan terbuka, akibat curah hujan yang sangat rendah, membuat kawasan ini ideal untuk mengamati burung; bahkan untuk fotografi burung. Tutupan tajuk yang tidak terlalu lebat menyediakan cahaya yang cukup untuk mengambil foto terbaik. Selain itu, salah satu taman nasional tertua di Indonesia ini juga rumah terbaik di pulau Jawa bagi beberapa jenis burung terancam punah. Sebut saja: merak hijau, Pavo muticus, yang menurut IUCN pada 2009, statusnya meningkat menjadi Endangered. Apakah hal itu kabar buruk atau kabar baik, yang jelas burung yang sudah sangat langka secara global itu masih sangat mudah dijumpai di Baluran. Sedikitnya tujuh tipe habitat menghiasi Baluran: hutan musim, hutan dataran tinggi, savanna, hutan pantai, hutan mangrove, padang lamun dan hutan tanaman. Berbagai macam tipe vegetasi yang tersebar dari 0 - 1245 meter dari permukaan laut ini menjadi kampung halaman bagi berbagai macam jenis burung yang menempati tipe habitat kesukaannya. Berdasarkan survei terbaru Balai Taman Nasional Baluran pada 2009, di kawasan ini setidaknya tercatat 175 jenis burung. Kotak 11 adalah wilayah dengan keanekaragaman burung tertinggi. Bisa jadi lokasi ini adalah tempat pengamatan paling ideal. Selain aksesibilitas yang sangat mudah, di kotak 11 ini bisa dijumpai berbagai macam tipe hutan: savanna Bekol, hutan pantai, mangrove dan padang lamun. Sekitar bulan Juli sampai memasuki musim hujan, savanna Bekol adalah surga untuk mengamati berbagai macam elang dan alap-alap. Berlimpahnya tikus yang bersarang di rekahan tanah membuat Bekol banyak disambangi raptor seperti elang brontok, elangular bido, elang tikus, elangular jari-pendek, dan elang perut-karat, termasuk alap-alap kawah dan alap-alap sapi. Dan tentu, pertunjukan maha indah: musim kawin-mawin merak hijau: para pejantan pamer keindahan bulunya kepada para betina. Lengkingan suara burung elok ini menyebar ke seluruh belantara Baluran, menyempurnakan keindahan pertunjukan ini.Sepanjang tahun, mulai dari savanna Bekol ke timur sampai pantai Bama dan sekitarnya (kotak 11), sejumlah burung bisa dijumpai: ciungair jawa (Macronous flavicollis), bangau sandang-lawe (Ciconiaepiscopus), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), pelatuk ayam (Driocopus javensis), rajaudang biru (Alcedocoerulescens), jalak putih (Sturnus melanopterus), merak hijau (Pavo muticus), cangak laut (Ardea sumatrana) atau ayamhutan hijau (Gallus varius). Ayam hutan hijau yang dikenal sulit dilihat, ketika menjelang senja hari di savanna bisa menyaksikan burung ini sama mudahnya dengan melihat ayam di pekarangan rumah. Selain kotak 11, bisa juga menikmati burung-burung di pantai Bilik-Sijile (kotak 23) dan Gatel (kotak 25). Kedua wilayah ini terletak di sisi barat dan utara Taman Nasional Baluran. Meski aksesibilitas cukup berat, terutama pada musim penghujan, pantai Bilik-Sijile adalah satu-satunya lokasi untuk menemukan Wiliwili Besar, Esacus neglectus. Blok Gatel adalah wilayah yang cukup unik. Di sinilah kesempatan yang paling mungkin untuk menemukan bubut jawa, Centropus nigrorufus, dan manyar emas, Ploceus hypoxanthus. Dari Gatel, lebih ke timur sampai grid 24, pelatuk terbesar yang sudah sangat jarang ditemui di Pulau Jawa, telah menunggu: pelatuk kelabu-besar, Mulleripicus pulverulentus. Jika belum puas, bisa kembali ke timur untuk menyambangi hutan musim yang ideal untuk mengamati burung terdapat di sepanjang jalan Batangan-Bekol. Jalur ini berupa jalan aspal rusak yang menghubungkan antara pintu gerbang utama dengan Bekol-Bama sejauh 12 km. Pada lokasi ini, terutama yang masuk di kotak 7, pengamatan dengan berjalan kaki, naik sepeda motor atau mobil dengan terbuka sangat dimungkinkan. Dengan satu syarat, laju kendaraan tidak dipacu terlalu kencang—toh, kondisi jalan yang juga rusak. Para burung: rangkong badak (Buceros rhinoceros), pijantung besar (Arachnothera robusta), serindit jawa (Loriculus pusillus), kadalan kembang (Phaenicophaeus javanicus), dan jalak putih (Sturnus melanopterus) bisa dijumpai di sepanjang jalan ini. Rangkong badak dan serindit jawa adalah dua dari beberapa burung Baluran yang juga mulai jarang ditemui di wilayah-wilayah lain di Jawa. Dan, jalak putih bisa jadi burung dengan nasib paling men¬genaskan. Tidak hanya di Baluran, bahkan secara global, jalak putih menghadapi tekanan hebat akibat perburuan. Di Baluran mungkin tidak lebih dari empat ekor jalak putih. Pada tipe habitat yang berbeda, di hutan yang menghijau sepanjang tahun, membentang di sepanjang sungai Bajulmati, di sisi selatan kawasan, dan di Kawah Gunung Baluran bisa jadi adalah kantong-kantong burung paling penting di Taman Nasional Baluran. Beberapa jenis burung yang ditemukan di wilayah ini bahkan sama sekali berbeda dengan burung-burung di wilayah lain di Baluran. Sebut saja, jingjing petulak (Tephrodornis virgatus), empuloh janggut (Criniger bres), meninting besar (Enicurus leschenaulti), rajaudang meninting (Alcedo meninting), takur tenggeret (Megalaima australis), takur tulung-tumpuk (Megalaima javensis), cekakak batu (Lacedo pulcela), cucak kuning (Pycnonotus melanicterus). Terakhir, yang paling mengejutkan: elang jawa, Spizaetus bartelsi! Kenapa mengejutkan? Elang jawa ditemukan dalam keadaan sakit akibat terjebak perangkap pemburu liar pada 2004, yang akhirnya tak berhasil diselamatkan. Agaknya, inilah elang jawa terakhir yang ada di Baluran. Selain itu, banyak peneliti burung yang meragukan keberadaan elang jawa di Taman Nasional Baluran mengingat kondisi kawasan ini yang tidak memungkinkan bagi kehidupan elang jawa. Tapi inilah Baluran. Kawasan kering nan eksotis yang sudah terkoyak ini, ternyata masih menyimpan sisa-sisa keindahan yang disembunyikan dan dijaga baik-baik oleh Tuhan.*** |
||
Kembali


