berita selengkapnya
Judul : Serahkan Dua Ekor Enggang
Sumber : www.pontianakpost.com; Selasa, 02 Februari 2010 , 08:23:00
Tanggal Publish : 2010-02-09
 
PONTIANAK – Dua ekor burung enggang diserahkan sukarela pemiliknya kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar, kemarin.Reni Anggraini menyerahkan sepasang enggang ini setelah dua hingga tiga bulan dipeliharanya. Burung yang dalam bahasa daerahnya disebut karangkeng hitam itu diperoleh Reni dari seorang teman di Singkawang. Sepasang dibelinya seharga Rp 350 ribu. “Saya kasihan, dan juga saya tahu enggang termasuk binatang dilindungi,” kata Reni.Dia tidak langsung menghubungi BKSDA, Reni terlebih dahulu menelpon kantor WWF menyampaikan niatnya tersebut. WWF lantas mendatangi kediaman Reni di Jalan Merdeka nomor 555. Selanjutnya menghubungi BKSDA untuk mengambil dua enggang itu.

Communication Coordinator WWF Program Kalbar, Jimmy mengatakan, nama latin enggang tersebut adalah anthracoceros malayunus. Termasuk dalam apendik II daftar binatang dilindungi. “Bahasa Inggrisnya black hornbill, dilindungi PP nomor 7 tahun 1999,” ungkapnya.Enggang adalah hewan endemik Kalimantan. Dari 14 jenis yang ada di Kalbar terdapat tujuh jenis enggang termasuk yang diserahkan karangkeng hitam. Jenis ini hidup berkoloni, banyak terdapat di danau seperti Taman Nasional Danau Sentarum. “Makanannya buah dan biji-bijian, banyak ditemui di TNDS,” tutur Jimmy.Karangkeng hitam yang diserahkan Reni, sekilas kondisinya baik. Keduanya berjenis kelamin jantan dan betina. Diperkirakan usianya di bawah tiga tahun, karena ukuran tubuh terbilang kecil. “Teman saya yang di Singkawang mungkin sudah setahun lebih memeliharanya. Pernah juga lepas, tapi dapat ditangkap kembali,” kata Reni.

Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Kalbar, Junaidi mengutarakan, penyerahan enggang ini akan diteruskan dengan surat berita acara. Selanjutnya, kemungkinan besar dititipkan di lembaga konservasi Sinka Zou Singkawang. BKSDA juga akan menelusuri peredaran enggang. “Sinka Zou adalah tempat konservasi yang telah diatur pemerintah, kemungkinan besar dibawa ke sana,” paparnya.Junaidi belum dapat memastikan berapa lama proses rehabilitasi hingga kedua enggang dilepas ke alam liar. Pihaknya akan memeriksa secara medis dan tingkat stres terlebih dahulu. “Belum kita pastikan kondisinya, harus diteliti dulu,” kata dia.Enggang sejenis juga pernah ditemukan di Singkawang tiga bulan lalu. Setelah diperingati BKSDA, pemiliknya mengaku menyerahkannya kembali kepada penjualnya. “Tapi saya pastikan enggang jenis ini bukan berasal dari Singkawang, datangnya dari luar,” tegasnya.(hen)

Kembali