berita selengkapnya
Judul : Memberdayakan Kearifan Lokal Masyarakat Hutan
Sumber : www.seputar-indonesia.com; abdul malik/islahuddin; Sabtu,06 Feb 2010
Tanggal Publish : 2010-02-18
 
HUTAN adalah kekayaan yang tidak ternilai dan bisa dimanfaatkan sepanjang waktu.Namun jika pemanfaatannya melalui penebangan pohon, hal itu pasti tidak akan berlangsung lama, bahkan akan merusak alam.

Sebenarnya, banyak cara pemanfaatan hutan. Memang tidak mudah menyadarkan masyarakat yang terbiasa melakukan penebangan hutan. Namun, dengan kerja keras dalam memberikan pengertian kepada masyarakat dan memberikan alternatif konkret lain, masyarakat akhirnya mendukung penghentian penebangan secara liar.Terpenting adalah bagaimana alternatif usaha lain itu bisa lebih bernilai ekonomis dari penebangan yang selama ini dimodali para cukong pembalakan liar. Pola inilah yang dilakukan Valentinus Heri, salah seorang yang mencoba melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.

Heri, pria yang lahir di Taman Nasional Danau Sentarum Kalimantan Barat, selama ini berjuang memberikan penyadaran kepada masyarakat asli di taman nasional itu untuk melestarikan hutan. Memang, sebelum menjadi taman nasional, kawasan hutan Danau Sentarum adalah sebuah wilayah margasatwa. Begitu berubah status (menjadi taman nasional), seharusnya tidak boleh ada lagi kegiatan masyarakat di wilayah itu. Akan tetapi, karena masyarakat asli sejak lama menempati kawasan hutan tersebut,sangat tidak mungkin menyarankan mereka ”hijrah”ke daerah lain.

Karena itu, tidak ada pilihan lain selain masyarakat sekitar melakukan konservasi hutan agar mereka tidak terusir dan menjaga kelestarian tempat tinggal mereka. Membangkitkan kearifan lokal untuk menjaga hutan lestari menjadi alasan Heri dan LSM yang dibinanya, Riak Bumi,untuk menyelaraskan antara kegiatan konservasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.Caranya dengan memanfaatkan madu hutan.Awalnya, mengubah paradigma masyarakat hutan yang selama ini bergantung hidupnya pada kegiatan pembalakan liar memang bukan pekerjaan mudah.

Masyarakat hutan selalu berpikir, kepentingan ekonomi keluarga harus didahulukan dari masalah pelestarian hutan. Setidaknya, masyarakat baru bisa menanggapi inisiatif pelestarian lingkungan dan mengerti dampak berkurangnya sumber daya saat mereka memiliki rasa keterhubungan antara kehidupan ekonomi mereka dengan hutan. Karena itu, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian hutan,hal itu harus dikaitkan dengan kegiatan ekonomi yang akan menguntungkan mereka.Apalagi,Taman Nasional Danau Sentarum adalah habitat bagi lebah Asia asli penghasil madu, dorsata.

Namun,dengan kerja keras dan konsistensi yang dilakoninya,Heri pada 1996 mulai menggagas untuk mengajak masyarakat hutan memproduksi madu hutan.Tantangan pertama yang dihadapinya adalah soal harga madu hutan yang masih rendah. Kala itu, harga masih ditentukan pembeli,khususnya oleh para pedagang. ”Kegiatan pemberdayaan madu hutan adalah inline dengan konservasi hutan sehingga harus dikembangkan”ujar Heri. Karena itu, untuk meningkatkan harga madu hutan,Heri menggagas kegiatan panen lestari. Dengan kegiatan ini,selain panen bisa dilakukan dua kali dalam setiap musim madu, hal itu juga bisa meningkatkan kualitas madu.

Sebelumnya panen hanya dilakukan dengan memeras madu dengan tangan dan mencampur antara madu dan larva. Namun, dengan pola panen lestari, madu dihasilkan dari lebah yang masih berumur 20 hari dan dibiarkan terus berkembang. Musim panen umumnya dilakukan Desember hingga Maret. Kini para pengumpul madu hutan, yang kebanyakan merupakan orang muda telah meningkatkan pendapatan mereka delapan kali lipat. Selain mengembangkan teknik panen, Riak Bumi membantu masyarakat dengan cara pengemasan dan pemasaran.

”Jika sebelum ada kegiatan ini harga madu setara atau lebih rendah dari harga gula,tetapi dengan adanya peningkatan (melalui kegiatan tersebut) kualitas harga madu bisa mencapai 6–7 kali harga gula,”jelas Heri. Masyarakat Taman Nasional Danau Sentarum selain memanfaatkan hutan juga berprofesi sebagai nelayan. Musim nelayan biasanya dilakukan Juni hingga September sehingga mereka mempunyai dua penghasilan.Dengan usaha yang baru dan menjanjikan ini, penghuni hutan yang termiskinkan tak lagi harus hidup dari pembalakan atau eksploitasi sumber daya hutan dengan cara yang tak ramah lingkungan.

Penghasilan yang menjanjikan dan berkelanjutan yang diupayakan Heri juga didukung hukum adat atau kebiasaan yang melindungi hak lahan para penghuni asli, yang menyatakan bahwa hak penduduk lokal harus dipertimbangkan dalam pengelolaan sumber daya alam di dalam atau di sekitar komunitas mereka. Riak Bumi kini menjadi sentra Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI).

Komunitas ini juga menyatu dengan jaringan madu hutan sedunia.Pada September 2009 lalu Heri mewakili JMHI ikut dalam Apimondia 2009 yang diadakan di Paris, Prancis. Kini, kerja keras Heri meluas melampaui asalnya di Kalimantan Barat. (abdul malik/islahuddin)

Kembali